Selasa, 19 Juni 2012

MENOPOUSE



PENGELOLAAN GANGGUAN PSIKOLOGIS PADA MASA MENOPOUSE

Pengaruh obat hormone dalam terapi sulih hormon (TSH) bagi wanita menopause hingga saat ini mengandung pro dan kontra. Sementara penelitian tentang TSH masih terus dilakukan. Pengobatan non-hormonal dengan cara pengaturan pola hidup dan lingkungan merupakan aspek utama dalam upaya mengatasi keluhan dan penyulit masa perimenopouse.
Upaya menciptakakan pola hidup sehat terutama dilakukan dengan mengatur menu makanan dan pola makan seimbang. Banyak makan sayuran hijau, buah biji-bijian, vitamin, dan serat makanan itu akan membantu pencernaan dan metabolism tubuh. Selain itu juga, makanan yang dianjurkan adalah makanan yang rendah lemak jenuh, rendah kolesterol, kadar gula dan garam tidak berlebihan, cukup kalsium dan zat besi, serta cukup vitamin dan serat.
Olahraga merupakan kegiatan yang sangat penting untuk mempertahankan kebugaran. Olahraga yang teratur akan menyehatkan jantung dan tulang, mengatur berat badan, menyegarkan tubuh, dan memperbaiki suasana hati.

Beberapa cara mengatasi masalah menopause :

¨      Berbagai keluhan fisik pada wanita yang mengalami menopause, dapat diatasi dengan pemberian obat yang bersifat mengganti hormon estrogen. Pemberian obat ini digunakan untuk memulihkan sel-sel yang mengalami kemunduran. Disamping itu juga bisa menngkonsumsi vitamin yang fungsinya memperlambat proses penuaan. Untuk pengatasan ini perlu konsultasi dengan dokter yang berwewenang.
¨      Olah raga yang sesuai dengan usia tengah baya, dengan olah raga produksi endorphine dalam otak  meningkat,  kondisi ini  dapat memelihara keceriaan dan kegembiraan, pengiriman oksigen ke otakpun meningkat, sehingga ketegangan otot dan berbagai gangguan fisik pun sirna.   Olahraga teratur akan menyehatkan jantung dan tulang, mengatur berat badan, menyegarkan tubuh, dan memperbaiki suasana hati. Jarang berolahraga menyebabkan peredaran darah kurang lancar, otot lemah, napas pendek, masa tulang cepat berkurang. Hal ini menyebabkan rentan terhadap gangguan kardiovaskuler, darah tinggi, kegemukan, diabetes, nyeri tulang, osteoporosis dan depresi.
¨      Makanan yang baik.  Makanlah makanan yang rendah lemak. Banyak makan sayuran, buah, biji-bijian. Vitamin, mineral dan serat dalam makanan itu akan membantu pencernaan dan metabolisme tubuh.
¨      Melakukan hobi. Hidup tanpa sesuatu yang menyenangkan rasanya hambar, maka terlibat dengan aktivitas yang merupakan hobi dapat mengusir kebosanan dan mengatasi ketegangan-ketegangan  dalam hidup termasuk krisis pada menopause.
¨      Tetaplah berkarya dan usahakan dapat memberikan manfaat bagi orang lain, datangnya menopause tidak perlu dipandang sebagai penderitaan. Banyak peluang atau usaha yang dapat dijalani, yang dapat memberi pekerjaan bagi orang lain. Upaya ini dapat meningkatkan perasaan bahwa diri kita masih mampu memberi manfaat bagi orang lain
¨      Berpikirlah bahwa menopause itu sesuatu yang wajar. Jutaan wanita telah mengalami, dan mereka tidak merasa terganggu. Bahkan sampai sekarang perempuan di desa tidak pernah merasa ada gangguan saat menopause. Disamping itu berpikirlah secara  positif, apapun peristiwa yang dialami (termasuk menopause) bila dilihat dengan “kaca mata” positif (khusnudzon) maka tidak akan berdampak negatif bagi kehidupan.
¨      Terlibat dalam aktivitas-aktivitas keagamaan-sosial, dengan memberikan apa yang di miliki baik itu pengetahuan atau ketrampilan pada orang lain, akan dapat mengurangi perasaan-perasaan negatif yang mungkin muncul. Keterlibatan dalam berbagai aktivitas juga dapat mempertebal kepercayaan diri dan meningkatkan citra diri yang mulai menurun.
¨      Disamping itu bersilaturahmi atau bertemu dengan  teman yang mungkin mempunyai masalah yang sama, dapat berfungsi sebagai obat. Pertemuan yang memungkinkan untuk saling “berbagi rasa berbagi duka” sehingga beban itu tidak hanya dirasakan sendiri.
¨      Komunikasikan masalah dengan suami, berbagai perubahan maupun gangguan fisik-psikis-sosial yang dirasakan perlu diketahui suami. Pengertian, penerimaan dan dukungan dari suami sangat besar artinya bagi wanita yang mengalami menopause, sehingga ketegangan yang munul dapat di cegah. Lebih baik bila keterbukaan ini juga ditumbuhkan dalam keluarga secara keseluruhan, artinya anak-anak juga memberikan dukungan.
¨      Dan yang paling penting adalah tingkatkan ibadah, dekatkan diri pada Allah SWT,  yang akan memperkaya kehidupan ruhani dan menyadari sepenuhnya bila tujuan hidup ini untuk mengabdi pada Allah SWT. Yakinlah bahwa semua proses kehidupan manusia sejak dalam kandungan, lahir, tumbuh dan meninggal, itu semua sudah merupakan  merupakan perwujutan dari ketentuan Allah yang harus dijalani dalam kehidupan dunia, sebelum memasuki kehidupan akhirat yang kekal dan tidak berakhir. Pandanglah bahwa semua yang dialami sebagai kenikmatan dari Allah SWT. Menopause bukan akhir dari suatu kehidupan, bahkan merupakan saat yang tepat untuk lebih mendekatkan diri pada Allah SWT


ASUHAN PADA MASA NIFAS



Jadwal Kunjungan Rumah Pada Masa Nifas

Kunjungan pada masa nifas dilakukan minimal 4 x. Adapun tujuan kunjungan rumah untuk menilai keadaan ibu dan bayi baru lahir serta mencegah, mendeteksi dan menangani komplikasi pada masa nifas.
 Kunjungan rumah memiliki keuntungan sebagai berikut: bidan dapat melihat dan berinteraksi dengan keluarga dalam lingkungan yang alami dan aman serta bidan mampu mengkaji kecukupan sumber yang ada, keamanan dan lingkungan di rumah. Sedangkan keterbatasan dari kunjungan rumah adalah memerlukan biaya yang banyak, jumlah bidan terbatas dan kekhawatiran tentang keamanan untuk mendatangi pasien di daerah tertentu.

Jadwal kunjungan rumah pada masa nifas sesuai dengan program pemerintah meliputi:
1.      Kunjungan I (6-8 jam postpartum)
Kunjungan I (6-8 jam postpartum) meliputi:
*      Mencegah perdarahan masa nifas oleh karena atonia uteri.
*      Deteksi dan perawatan penyebab lain perdarahan serta lakukan rujukan bila perdarahan berlanjut.
*      Pemberian ASI awal.
*      Konseling ibu dan keluarga tentang cara mencegah perdarahan karena atonia uteri.
*      Mengajarkan cara mempererat hubungan ibu dan bayi baru lahir.
*      Menjaga bayi tetap sehat melalui pencegahan hipotermi.
2.      Kunjungan II (6 hari postpartum)
Kunjungan II (6 hari postpartum) meliputi:
*      Memastikan involusi uterus berjalan normal, uterus berkontraksi baik, tunggi fundus uteri di bawah umbilikus, tidak ada perdarahan abnormal.
*      Menilai adanya tanda-tanda demam, infeksi dan perdarahan.
*      Memastikan ibu cukup istirahat, makanan dan cairan.
*      Memastikan ibu menyusui dengan baik dan benar serta tidak ada tanda-tanda kesulitan menyusui.
*      Memberikan konseling tentang perawatan bayi baru lahir.
3.      Kunjungan III (2 minggu postpartum)
Asuhan pada 2 minggu post partum sama dengan asuhan yang diberikan pada kunjungan 6 hari post partum.
4.      Kunjungan IV (6 minggu postpartum)
Kunjungan IV (6 minggu postpartum) meliputi:
*      Menanyakan penyulit-penyulit yang dialami ibu selama masa nifas.
*      Memberikan konseling KB secara dini.

Asuhan Lanjutan Masa Nifas Di Rumah

a.       Prinsip pemberian asuhan lanjutan pada masa nifas di rumah meliputi:
1.      Asuhan postpartum di rumah berfokus pada pengkajian, penyuluhan dan konseling.
2.      Pemberian asuhan kebidanan di rumah, bidan dan keluarga dilakukan dalam suasana rileks dan kekeluargaan.
3.      Perencanaan kunjungan rumah.
4.      Keamanan
b.      Perencanaan kunjungan rumah meliputi:
1.      Kunjungan rumah tidak lebih 24-48 jam setelah pasien pulang.
2.      Memastikan keluarga sudah mengetahui rencana kunjungan rumah dan waktu kunjungan bidan telah direncanakan bersama.
3.      Menjelaskan maksud dan tujuan kunjungan.
4.      Merencanakan tujuan yang ingin dicapai dan menyusun alat serta perlengkapan yang digunakan.
5.      Memikirkan cara untuk menciptakan dan mengembangkan hubungan baik dengan keluarga.
6.      Melakukan tindakan yang sesuai standar pelayanan kebidanan dalam pemberian asuhan.
7.      Membuat pendokumentasian hasil kunjungan.
8.      Meyediakan sarana telepon untuk tindak lanjut asuhan.
c.       Keamanan pada saat kunjungan rumah meliputi:
1.      Mengetahui alamat lengkap pasien dengan jelas.
2.      Menggambar rute alamat pasien.
3.      Memperhatikan keadaan di sekitar lingkungan rumah pasien sebelum kunjungan.
4.      Memberitahu rekan kerja ketika melakukan kunjungan.
5.      Membawa telepon selular sebagi alat komunikasi.
6.      Membawa cukup uang.
7.      Menyediakan senter (kunjungan malam hari).
8.      Memakai tanda pengenal dan mengenakan pakaian yang sopan.
9.      Waspada pada bahasa tubuh yang diisyaratkan dari siapa saja yang ada selama kunjungan.
10.  Menunjukkan perasaan menghargai di setiap kesempatan.
11.  Saat perasaan tidak aman muncul, segeralah akhiri kunjungan.

Pelaksanaan Asuhan Nifas Masa Nifas Di Rumah

Pelaksanaan asuhan nifas meliputi:
1.      Ibu baru pulang dari rumah sakit.
Ibu baru pulang dari RS meliputi:
v  Keputusan bersama antara tenaga kesehatan dengan ibu/keluarga.
v  Bidan memberikan informasi tentang ringkasan proses persalinan, hasil dan info lain yang relevan.
v  Mengulang kembali bilamana perlu.
2.      Kunjungan postnatal rutin
Kunjungan postnatal rutin meliputi:
Ø  Kunjungan rumah dilakukan minimal 2x setiap hari.
Ø  Mengajarkan ibu dan keluarga tentang perawatan bayi baru lahir.
Ø  Mengajarkan ibu untuk merawat diri.
Ø  Memberikan saran dan nasehat sesuai kebutuhan dan realistis.
Ø  Bidan harus sabar dan telaten menghadapi ibu dan bayi.
Ø  Melibatkan keluarga saat kunjungan rumah.
3.      Pengamatan pada psikologi ibu
Bidan melakukan pengamatan pada psikologi ibu, meliputi:
v  Memberikan pendidikan kesehatan tanda bahaya masa nifas.
v  Bidan mengobservasi perilaku keluarga.
v  Meluangkan waktu untuk sharing dengan ibu dan keluarga.
v  Memberikan dukungan.
v  Melakukan dokumentasi pasca kunjungan.
v  Perencanaan skrining test.
v  Memberikan penyuluhan sehubungan dengan kebutuhan pada masa nifas.

Pendidikan Kesehatan Masa Nifas

Pendidikan kesehatan masa nifas meliputi:
Ø  Gizi
Pendidikan kesehatan gizi untuk ibu menyusui antara lain: konsumsi tambahan 500 kalori setiap hari, makan dengan diet berimbang, minum sedikitnya 3 liter air setiap hari, tablet zat besi harus diminum selama 40 hari pasca bersalin dan minum kapsul vitamin A (200.000 unit).
Ø  Kebersihan diri
Pendidikan kesehatan kebersihan diri untuk ibu nifas antara lain: menganjurkan kebersihan seluruh tubuh; mengajarkan ibu cara membersihkan daerah kelamin; menyarankan ibu untuk mengganti pembalut; menyarankan ibu untuk cuci tangan sebelum dan sesudah membersihkan daerah kelamin; jika ibu mempunyai luka episiotomi atau laserasi, menyarankan untuk menghindari menyentuh daerah luka.

Ø  Istirahat
Pendidikan kesehatan untuk ibu nifas dalam hal istirahat/tidur meliputi: menganjurkan ibu untuk cukup istirahat; menyarankan ibu untuk kembali ke kegiatan rumah secara perlahan-lahan; menjelaskan pada ibu bahwa kurang istirahat akan pengaruhi ibu dalam jumlah ASI yang diproduksi, memperlambat proses involusi uterus dan memperbanyak perdarahan, menyebabkan depresi dan ketidak mampuan untuk merawat bayi serta diri sendiri.
Ø  Pemberian ASI
Pendidikan kesehatan untuk ibu nifas dalam pemberian ASI sangat bermanfaat, karena pemberian ASI merupakan cara yang terbaik untuk ibu dan bayi. Oleh karena itu, berikan KIE tentang proses laktasi dan ASI; mengajarkan cara perawatan payudara.
Ø  Latihan/ senam nifas
Pendidikan kesehatan tentang latihan/senam nifas meliputi: mendiskusikan pentingnya pengembalian otot-otot perut dan panggul kembali normal; menjelaskan bahwa latihan tertentu beberapa menit setiap hari dapat bantu mempercepat pengembalian otot-otot perut dan panggul kembali normal.
Ø  Hubungan seks dan Keluarga Berencana
Pendidikan kesehatan tentang seks dan keluarga berencana yaitu: hubungan seks dan KB dapat dilakukan saat darah nifas sudah berhenti dan ibu sudah merasa nyaman; keputusan untuk segera melakukan hubungan seks dan KB tergantung pada pasangan yang bersangkutan; berikan KIE tentang alat kontrasepsi KB.
Ø  Tanda-tanda bahaya masa nifas
Pendidikan kesehatan tanda-tanda bahaya masa nifas meliputi: berikan pendidikan kesehatan tanda bahaya masa nifas untuk mendeteksi komplikasi selama masa nifas. Tanda bahaya berupa: perdarahan dan pengeluaran abnormal, sakit daerah abdomen/punggung, sakit kepala terus menerus/penglihatan kabur/nyeri ulu hati, bengkak pada ekstremitas, demam/muntah/sakit saat BAK, perubahan pada payudara, nyeri/kemerahan pada betis, depresi postpartum.

Senin, 11 Juni 2012

SAP DEMAM BALITA


SAP
(SATUAN ACARA PENYULUHAN)

Pokok Bahasan                 :  Demam Pada Anak Balita

Sub Poko Bahasan            :  Pengobatan demam di rumah

Hari/Tanggal                      : 

Waktu/Tempat                  : 


A.    LATAR BELAKANG

Usia Balita adalah usia yang paling rawan dalam pertumbuhan, dikarenakan pada usia tersebut anak mulai berinteraksi dan berskplorasi dengan lingkungan sehingga meningkatkan resiko terkena paparan beberapa penyakit baik itu dari virus, bakteri ataupun jamur.

Demam adalah keluhan pada anak yang paling sering dijumpai, sekitar 10-30% dari semua keluhan yang diketemukan pada instalasi gawat darurat di rumah sakit atau dalam praktek dokter sehari-hari maupun di puskesmas. Sampai usia 2 tahun rata rata anak menderita demam sekitar empat sampai enam kali serangan. Sebagai manifestasi klinis, maka demam terjadi pada sebagian besar penyakit infeksi yang ringan dan serius, dari demam saja tak dapat dipakai untuk memprediksi beratnya penyakit. Memang sebagian besar kejadian demam pada anak mudah didiagnosa, namun telah diketahui juga demam pada kelompok yang beresiko tinggi, untuk diagnosa memerlukan evaluasi lebih ekstensif.

B.     TUJUAN

TUJUAN UMUM
·         Setelah mengikuti kegiatan penyuluhan diharapkan warga dapat memahami dan mengerti tentang demam.


TUJUAN KHUSUS
·         Setelah mengikuti kegiatan penyuluhan, diharapkan warga dapat menjelaskan
tentang :
Ø  pengertian demam
Ø  penyebab demam
Ø  perawatan demam dirumah
Ø  tindakan untuk mengurangi demam
Ø  kapan harus membawa anak ke tenaga kesehatan
C. PELAKSANAAN KEGIATAN
1.  Judul Kegiatan :  Demam

      2.  Sasaran/Target        :  orang tua yang memiliki anak balita

      3.  Metode                   :  - Ceramah
                                             - Tanya Jawab

      4.  Media                     :  - Flipchart

      5.  Materi                     :   Terlampir

6.  Setting Tempat

   

7.  Pelaksanaan     

                         a.       Penyaji                  :      
                         b.      CI Puskesmas        :
                         c.       Moderator             :       
                         d.      Fasilitator               : 
                         e.       Observer               :       

8.   Tugas Pelaksanaan

                  a. Moderator  Bertugas       : 

- Membuka dan Menutup acara
  - Memperkenalkan diri beserta anggota penyuluhan
  - Menetapkan tata tertib acara penyuluhan
  - Menjaga kelancaran acara Penyuluhan

                  b. Penyaji Bertugas            :

  - Menyajikan materi penyuluhan
   - Bersama fasilitator menjalin kerjasama dalam acara penyuluhan


                  c. Observer Bertugas         :

 - Mengamati jalannya kegiatan
 - Mengevaluasi kegiatan
 - Mencatat prilaku verbal dan non verbal peserta kegiatan

                  d. Fasilitator Bertugas       :

- Bersama moderator menjalin kerjasama dalam menyajikan materi penyuluhan
- Memotivasi peserta kegiatan dalam bekerja.




9. STRATEGI PELAKSANAAN

No.
Waktu
Kegiatan Penyuluhan
Kegiatan Audiens
1
3 menit

Pembukaan:
1.      Memberikan salam
·         Menjelaskan tujuan pembelajaran
·          Menyebutkan materi atau pokok bahasan yang di sampaikan
1.     
·         Menjawab salam,
·         Mendengarkan
·          mendengarkan dan memperhatikan
2
10  menit
Pelaksanaan materi:
Menjelaskan materi penyuluhan secara berurutan dan teratur :
·         pengertian demam
·         penyebab demam
·         perawatan demam dirumah
·         tindakan untuk mengurangi demam
·         kapan harus membawa anak ke tenaga kesehatan



·         Memperhatikan
·         Memperhatikan
·         Memperhatikan
·         Memperhatikan
·         Memperhatikan
3
5 menit
Evaluasi :
·         Menyimpulkan isi penyuluhan

·           Memberi kesempatan kepada audience untuk bertanya


·          Memberikan kesempatan kepada audience untuk menjawab pertanyaan yang dilontarkan

·         Memperhatikan dan mendengarkan
·         Audiens bertanya tentang materi yang telah disampaikan.
·         Audiens bisa menjawab pertanyaan
4
2 menit
Penutup:
Mengucapkan terima kasih dan mengucapkan salam

Menjawab salam


10. Evaluasi
-          Evaluasi Struktur
§  Menyiapkan SAP
§  Menyiapkan materi dan media
§  Kontrak waktu dengan sasaran
§  Menyiapkan tempat
§  Menyiapkan pertanyaan
-          Evaluasi Proses
a.       Waktu penyuluhan dimulai pada pukul 09.00 dan berakhir pada pukul 10.00 WIB ,peserta mendengarkan dan mengajukan pertanyaan tentang Demam dan perawatannya.
b.      Selama penyuluhan tidak ada penyimpangan dari tujuan yang telah ditetapkan.
c.       Selama kegiatan peserta tidak ada meninggalkan tempat.

-          Evaluasi Hasil

Setelah dilakukan penyuluhan peserta dapat :
·         Menjelaskan pengertian demam
·         Menjelaskan penyebab demam
·         Menjelaskan perawatan demam dirumah
·         Menjelaskan tindakan untuk mengurangi demam
·         Menjelaskan kapan harus membawa anak ke tenaga kesehatan




MATERI PENYULUHAN


DEMAM PADA ANAK BALITA


PENGERTIAN


Demam adalah kenaikan suhu tubuh di atas normal. Bila diukur pada rektal >38°C (100,4°F), diukur pada oral >37,8°C, dan bila diukur melalui aksila >37,2°C (99°F). (Schmitt, 1984). Sedangkan menurut NAPN (National Association of Pediatrics Nurse) disebut demam bila bayi berumur kurang dari 3 bulan suhu rektal melebihi 38° C. Pada anak umur lebih dari 3 bulan suhu aksila dan oral lebih dari 38,3° C.

Demam mengacu pada peningkatan suhu tubuh yang berhubungan langsung dengan tingkat sitokin pirogen yang diproduksi untuk mengatasi berbagai rangsang, misalnya terhadap toksin bakteri, peradangan, dan ransangan pirogenik lain. Bila produksi sitokin pirogen secara sistemik masih dalam batas yang dapat ditoleransi maka efeknya akan menguntungkan tubuh secara keseluruhan, tetapi bila telah melampaui batas kritis tertentu maka sitokin ini membahayakan tubuh.  Batas kritis sitokin pirogen sistemik tersebut sejauh ini belum diketahui. (Sherwood, 2001).

PENYEBAB

Demam merupakan gejala bukan suatu penyakit. Demam adalah respon normal tubuh terhadap adanya infeksi.  Infeksi adalah keadaan masuknya mikroorganisme kedalam tubuh. Mikroorganisme tersebut dapat berupa virus, bakteri, parasit, maupun jamur. Kebanyakan demam disebabkan oleh infeksi virus. Demam bisa juga disebabkan oleh paparan panas yang berlebihan (overhating), dehidrasi atau kekurangan cairan, alergi maupun dikarenakan
gangguan sistem imun (Lubis, 2009).

Penyebab-penyebab lain: penyakit rheumatoid, penyakit otoimun, Juvenile rheumatoid arthritis, Lupus erythematosus, Periarteritis nodosa, infeksi HIV dan AIDS, Inflammatory bowel disease, Regional enteritis, Ulcerative colitis, Kanker, Leukemia, Neuroblastoma, penyakit Hodgkin, Non-Hodgkin's lymphoma


PERAWATAN RUMAH
           
Jika demam ringan dan tidak ada masalah-masalah lain yang timbul, tidak diperlukan obat-obatan. Minum cairan yang banyak dan istirahat. Jika seorang anak masih dapat bermain dan nyaman, minum cairan yang banyak dan dapat tidur maka obat-obatan tidak diperlukan.
Ambil langkah-langkah untuk menurunkan demam jika kita atau anak kita merasa tidak nyaman, muntah, dehidrasi, atau sulit tidur. Tujuannya adalah menurunkan, bukan menghilangkan demam.

TINDAKAN UNTUK MENGURANGI DEMAM

·         Jangan membungkus orang yang menderita demam.
·          Singkirkan baju atau selimut yang berlebihan.
·         Lingkungan sebaiknya sejuk nyaman. Contoh, satu lapis baju tipis dan satu selimut tipis untuk tidur. Jika ruangan panas, nyalakan AC atau kipas angin.
·         Mandi atau menyeka tubuh dengan air hangat kuku dapat membantu mendinginkan seseorang dengan demam. Ini efektif terutama setelah diberikan obat penurun panas kalau tidak suhu tubuh akan kembali naik.
·         Jangan mandi dengan air dingin atau kompres dengan alkohol. Ini akan mendinginkan kulit tetapi seringkali membuat situasi menjadi lebih buruk karena menyebabkan menggigil yang mana dapat meningkatkan suhu dalam tubuh. air kompres terlalu dingin akan mengerutkan pembuluh darah anak. Akibatnya, panas tubuh tidak mau keluar. Anak jadi semakin menggigil untuk mempertahankan keseimbangan suhu tubuhnya.
·         Banyak minum untuk mencegah dehidrasi. Sekitar 7-8 gelas sehari.

HUBUNGI DOKTER ATAU TENAGA KESEHATAN JIKA :

·         Bayi berusia kurang dari 90 hari dengan suhu rektal lebih dari 37.9°C. Pada bayi usia muda ini mereka akan mudah menjadi sakit parah dalam waktu sangat cepat.
·         Bayi berusia 3 – 6 bulan dengan demam lebih dari 38.3°C.
·         Bayi berusia 6 – 12 bulan dengan demam lebih dari 39.4°C.
·         Anak berusia kurang dari 2 tahun dengan demam lebih dari 24 – 48 jam.
·         Demam yang berlangsung lebih dari 48 – 72 jam pada anak yang lebih tua dan pada orang dewasa.
·         Demam tinggi (lebih dari 40.5°C) pada usia berapapun juga.
·         Terdapat gejala-gejala lain yang mengkhawatirkan. Contoh: gelisah, kesadaran menurun, tampak sakit berat, kesulitan bernafas, kaku kuduk, tidak dapat menggerakan lengan atau tungkai, kejang pertama kali, timbul bintik-bintik atau bercak ungu kemerahan-merahan (perdarahan bawah kulit), demam disertai muntah terus-menerus, diare, sulit/nyeri pada saat menelan ludah atau minum, sangat rewel (misalnya menangis terus-menerus bila disentuh atau dipindahkan), terdapat tanda-tanda dehidrasi (mulut sangat kering, tidak buang air kecil lebih dari 6 jam, dll).
·         Mempunyai penyakit kronik yang menyebabkan turunnya kekebalan tubuh.



Referensi :

1.     Sumarmo S, Buku Infeksi dan Penyakit Tropis Edisi 1, Tahun 2002, Balai Penerbit Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Jakarta.
2.   Dr. Tony Smith, dr. Sue Davidson (editor). Demam pada Anak-anak. Buku “Dokter di Rumah Anda” (terjemahan). Tahun 2009. Penerbit Dian Rakyat, Jakarta.  
3.      Luszczak M. Evaluation and management of infants and young children with fever. Am Fam Phys. 2001
4.      Victor Nizet, Vinci RJ, Lovejoy FH. Fever in children. Pediatr Rev. 1994